''Hati-hati dengan hutang, sesungguhnya berhutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) di siang hari.'' (HR Ahmad). Orang yang dibebani hutang akan merasa hilang kebebasan yang dimilikinya. Dia akan selalu dibelenggu sebuah tuntutan untuk melunasi hutang tersebut, pendapatan hasil kerja akan termakan olehnya, sehingga kita tidak lagi bebas membelanjakannya.
Rasulullah Shalallahu ’alaihi wassalam bersabda, ''Janganlah kalian membuat takut jiwa selepas ketenangannya.'' Sahabat bertanya, ''Apa itu wahai Rasulullah?'' Beliau menjawab, ''Hutang."
Hutang ini pula yang telah membelenggu negeri ini, sehingga kita tidak memiliki kebebasan bertindak. Kebijakan-kebijakan pemerintah seringkali mendapat intervensi dari asing yang tiada lain adalah para pendonor kita. Karena itu, Rasulullah menganjurkan kepada umatnya untuk selalu berdoa meminta perlindungan Allah dari bahaya hutang.
Namun dalam segi lain, Islam menganjurkan orang kaya untuk ringan tangan dalam memberikan hutang kepada saudaranya yang sangat membutuhkan. Bahkan, Rasulullah mengungkapkan memberikan hutang memiliki pahala lebih baik daripada bersedekah. Sebuah hadist Hasan menjelaskan, ''Hutang itu pahalanya dua kali lipat daripada pahala sedekah.''
Dalam kisah perjalanan Rasulullah bersama malaikat Jibril pada malam Isra Mi'raj, tertulis di salah satu pintu surga kata-kata, ''Sedekah bersamaan 10 kali ganda dan hutang bersamaan 18 kali ganda.''
Lalu baginda Nabi bertanya kepada Jibril, mengapa demikian? Jawab Jibril, ''Sedekah diberikan kepada seseorang, semua atau sebahagiannya. Sementara hutang, orang tidak akan meminta berhutang kalau tidak karena sebab yang mendesak.'' Hal ini sejalan dengan kehendak Allah seperti yang tercatat di dalam surah al-Maidah ayat 2, ''Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.''
Rasulullah Shalallahu ’alaihi wassalam senantiasa mengingatkan kita akan bahaya berhutang, karena ia akan mengikat kebebasan para pelakunya. Di samping itu, mereka yang meninggal dengan meninggalkan hutang, arwahnya akan terkatung-katung di antara langit dan bumi hingga lunas hutangnya.
Di sisi lain, kita dituntut selalu membantu saudara kita yang sangat memerlukan, baik bantuan secara materi maupun moril. wallahu a'lam.
(source : Nasher Akbar - Republika)
 | Iza suka sekali artikel ini...:~) |
 | alhamdulillah ... semoga bermanfaat |
| |
|